menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum
disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya
menangis…”
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Nadia harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Nadia jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” gerutu Nadia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Nadia merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Nadia harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Nadia jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” gerutu Nadia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Nadia merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.
“Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemoohan atau pun ejekan.
“Aduuuuhh” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Nadia sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Nadia pakai kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi berambut ikal tersebut.
Nadia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Nesya teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Nadia membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Nadia memang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Nesya malah menjitak kepalanya dari belakang.
“Woe non, nggak denger teriakan gue ya? Temen macam apa yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas sahabatnya tersebut kalo lagi ngambek.
“Sori deh Sya. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Nadia benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.
“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Reno lho.”
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Nadia membela diri.
Sejenak Nesya terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis.
“Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP dulu banget. ” ujar Nesya polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalau Reno nggak suka sama gue.”
“Tau ah gelap!”
***
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Nadia sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Nesya masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.
Saat Nadia membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar.
“Eh, sori..” ucap Nadia kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Nadia langsung ngasih tampang jutek kepada orang itu
Jujur Reno udah bosen kayak gini terus sama Nadia. Dia pengen hubungannya dengan Nadia bisa kembali seperti dulu.
“Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Nesya.” ucap Reno dingin sambil celingak celinguk mencari Nesya. “Hey Sya!” ucap Reno riang begitu orang yang dicarinya nongol.
“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Nesya sejenak melirik Nadia. Lalu dilihatnya Reno mengangguk bertanda mengiyakan. “Nad, kita duluan ya,” ujar Nesya singkat.
Byuuurr.. Sirup rasa stowberry menggalir deras dari rambut Nadia hingga menetes ke kemeja putihnya. Nadia nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.
“Maksud loe apa?” bentak Nadia menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.
“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Nadia. “Riz, mana sirupnya yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Nadia. Rizka langsung memberi satu gelas sirup yang sudah siap untuk disiram ke Nadia.
“Loe mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.
“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama loe.” teriak Nadia sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Nadia benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu di kasih pelajaran.
Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Nadia dengan sirup.
“Jauhin Reno. Gue tau loe berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Reno. Tapi kenapa loe sekarang nggak mau ngelepas Reno?!!”
“Maksud loe?” ledek Nadia sinis.
“Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Reno. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”
Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Nadia.
“Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Nadia. Kesabaran Nadia akhirnya sampai di level terbawah.
“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Nadia juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Nadia sudah tau. Tapi ia nggak tau benar apa salah.
“Loe nggak apa-apa kan, Nad?” sesal Reno.
“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***
Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Nadia dan Reno berada di ruang UKS. Nadia membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Reno memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Nadia. Nadia lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Nadia nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.
“Ntar loe pulang gimana?” tanya Reno polos.
“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Nadia jutek. Rasanya Nadia makin benci sama yang namanya Reno. Gara-gara Reno dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Reno enggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.
“Tadi itu cewek loe ya?” ucap Nadia dengan wajah jengkel.
“Nggak.” ucap Reno datar.
“Terus kok dia malah ngelabrak gue? Nyuruh jauhin loe segala. Emang dia siapa?” gerutu Nadia kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue enggak mau jauh-jauh sama Reno. Aduuuhh…
Reno sejenak tersenyum.
“Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Reno sambil menunjuk Nadia.
Nadia terdiam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Reno menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Nanti bisa pulang sendiri kan?” tanya Reno.
“Bisalah. Emang loe mau nganter gue pulang?”
“Emang loe kira gue udah lupa sama rumah loe? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupain segala sesuatu tentang diri loe. Gue masih paham benar tentang diri loe. Malah perasaan gue masih sama kayak dulu.” jelas Reno sejelas-selasnya. Reno pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Loe ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat loe!” ancam Nadia. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala pusing, malah di kasih obrolan yang makin pusing.
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal loe tau, gue selalu cari gara-gara ama loe itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas loe nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa loe malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin loe berantem.” Sejenak Reno menanrik nafas.
Hening sejenak diantara mereka berdua.
“Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Nadia sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Nadia, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapain. Dulu ia nolak Reno karena Nesya juga suka Reno. Tapi sekarang?
“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Rno berbicara tepat saat Nadia sudah berada di ambang pintu UKS.
Nadia terdiam tak sanggup berkata-kata. Di langkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Reno yang termenung sendiri.
***
Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Nesya belum datang. Nadia sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Nadia nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Reno selalu terbesit di benaknya. Apa benar Reno pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Reno mau pindah apa nggak, batin Nadia. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”
“Mikirin Reno maksud loe?” ucap Nesya tiba-tiba udah ada disamping Nadia.
“Nih hadiah dari pangeran loe.” Di lihatnya Nesya mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Nadia membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Nadia dan Reno saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.
Dear Nadia,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu loe nangis gara-gara di hukum sama kakak kelas. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. just kidding J. Loe dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga loe seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke loe gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat loe ga mau jadi pacar gue. I Love You…
Salam Sayang,
Reno Purwanto
“Kenapa loe nggak mau nerima dia? Gue tau loe suka Reno tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Nesya tersenyum.
“Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Reno. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.” Ujar Nesya menyakinkan Nadia.
“Thanks Sya. Loe emang sahabat terbaik gue.” ucap Nadia tulus.
“Tapi gue tetap pada prinsip gue.” Ucap Nadia yakin.
Nesya terlihat menerawang.
“Dan lo harus janji sama gue kalo loe bakal jujur tentang persaan lo sama Reno. Janji?” lanjut Nesya sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“Janji..” gumam Nadia lirih.
Kali ini saya akan berbagi novel cinta remaja
bergenre sedih dengan judul Gita. Selamat membaca novel cinta sedih ini
ya.
Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.
Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.
“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita
“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.
Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....
“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.
“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.
Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.
“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.
“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.
Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.
Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.
“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.
“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.
Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.
Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.
“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.
“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.
Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.
Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.
Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.
Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.
Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.
“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita
“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.
Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....
“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.
“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.
Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.
“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.
“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.
Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.
Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.
“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.
“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.
Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.
Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.
“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.
“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.
Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.
Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.
Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.
Terimkasih sudah membaca novel cinta remaja
sedih yang berjudul Gita, semoga Bermanfaat
Novel Cinta : Arti Cinta Dan
Kehidupan
Cínta adalah semangat hídup, tapí terkadang pula cínta tídak memberíkan
artí tapí memberíkan luka. Penyakítku semakín parah, Membuat hídup terasa
sebentar.
Cínta adalah semangatku tanpanya aku sepertí hídup dalam kegelapan. Esok
harí aku melíhat día begítu menawan, hídungnya yang anggun serasa aku mulaí tak
berkedíp hanya butuh waktu untuk dekat denganya.
Darí detík ítulah aku mulaí berjuang demí apa yang aku íngínkan yaítu cínta
yang begítu aku kagumí, perjuangan untuk mendapatkannya begítu panjang. Lelah
aku menantínya cínta yang sama sekalí kadang tídak jelas. Kesabaran yang aku
mílíkí ítulah kuncínya. Waktu terus berjalan sampaí akhírnya cínta yang aku
harpkan menjadí kenyataan setelah sekían berbulan-bulan, namun belum cukup
sampaí dísítu. Aku berfíkír? Apakah ía kekasíhku atau bukan ntah aku tídak
mengertí. Ketíka aku menyatakan perasaanku tídak pernah díbalas olehnya. Dan ketíka
aku díam día berkata sayang. Díam hanya bísa membuatku terluka dan bícara
padanya membuatku tau ísí hatínya. Namun ucapanku percuma tídak satupun díbalas
olehnya.
Harus ku jalaní cínta íní tanpa ada hubungan entah día kekasíhku atau bukan
panggílan sayang terdengar darí telínga, Dan terlíhat oleh mata. Waktu masíh
berlanjut begítu índah aku rasakan meskí terkadang pertengakaran dan pertíkaían
menghadapí hanya satu yaítu jangan pernah egoís yang bísa
menyelesaíkannya.
Namun suatu ketíka cínta yang aku percaya untuk salíng menjaga perasaan
telah mengecewakanku, día sempat díam-díam mempermaínkan perasaan díbelakangku,
ntah mengapa ía lakukan semua ítu. Aku sayang día, begítu sayangnya sama día
sampaí aku harus overprotektíf harus pula selalu memberíkan nasehat.
Terkadang ketíka aku kecewa hatíku terluka bíbírku mengucap kata PUTUS
namun ítu cuma ucapan, padahal díhatíku tak satupun dan tak pernah ada
keíngínan sepertí ítu. Mungkín aku hanya kecewa dan tersakítí dan día tídak
pernah merasakan terlukanya hatíku.
Harí bergantí harí masalah aku selesaíkan dengan penuh kesabaran sampaí
akhírnya día marah dan terus marah tídak mau mengakuí kesalahanya. Dan akupun
masíh tetap sabar, kesabaran membuahkan hasíl perpísahan kembalí menyatu.
Ceríta yang tlah aku uraí ceríta yang tlah kíta buat bersama dísítulah masíng
masíng darí kíta akan mengenangnya. Mengenang semua ceríta bahagía dan aír
mata. Dan kíní kíta mulaí membuka lembaran baru. Aku berharap dí awal ceríta
akan bahagía sampaí buku yang kíta buat terus bahagía sampaí akhírnya tetap
bersama.
Namun semua ítu percuma satu bulan membuka lembaran baru berbagaí alasan
mulaí terucap, aku merasakannya terlalu aneh. Sakít rasanya seseorang yang
begítu aku cíntaí terus menyakítíku, kepalaku mulaí sakít darah segar keluar
lancar dí hídungku dísaat aku memíkírkannya dan merasakan luka darínya. Ntah
aku tak tau tangan bersíh tak sengaja aku usapkan ke hídung darah mengkotorí
telapak tanganku, aku semakín sakít ketíka dítambah darah yang mengalír dí otak
tersumbat. Día begítu tídak tau apa yang saat ítu aku rasakan, día tídak akan
pernah sadar sedíkítpun. Aku cuma berkeíngínan día yang selalu Memberíkanku
semangat, memeberíkanku artí hídup meskí harus mencíntaímu sekejap ataukan
hídupku masíh panjang aku akan terus menjagamu dan terus mencíntaímu. Tapí día
cuma memíkírkan perasaannya demí orang yang ía íngínkan.
Pagí buta aku terbangun, tadí malam semua yang aku lakukan tak sadarkan
dírí.ketíka aku tertídur ternyata íbuku yang membersíhkan sísa darah keríng dí
bawah hídungku dengan tísu-tísu basah. Begítu sayangnya íbu denganku. Waktu
menunjukan pukul 7:00, waktu ítulah aku mulaí berangkat bekerja dengan
berpakaían rapí berbaju putíh bersíh aku selalu menyempatkan memberíkan pamít
kepada orang yang aku sayang,
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya, jaga dírí baík-baík jangan
pernah lupa sholat dan makan"
Namun percuma tídak ada satupun balasan darínya cuma tídak pernah ía
pedulíkan. Sahabat mulaí mengahapírí aku kawatír dengan orang palíng aku
sayang. Darí mulaí kawatír tíba-tíba kepalaku semakín sakít, mungkín penyakítku
mulaí kambuh lagí.
Aku tak pernah percaya penyakít apa yang aku rasakan saat íní. Aku hanya
bísa menekan kepalaku dengan kedua telapak tanganku dengan keras. Sahabat hanya
bísa melíhat tíngkahku yang aneh. Dan día tíba-tíba melíhat darah yang keluar
kembalí dí hídungku.
"Hídungmu kok keluar darahnya?"
aku sontak langsung mengusapnya, namun tak hentí-hentínya sampaí tísu-tísu keríng berserakan penuh darah. Orang tersayang tídak pernah pedulí juga tídak pernah sedíkítpun mengertí sakít yang aku deríta.
Sampaí akhírnya aku harus bekerja dengan pemberían semangat sahabatku meskípun kepala íní terasa begítu sakít. Sore harí Pulang kerja aku kembalí sms día.
"sayang aku sudah pulang, tadí aku seneng baget dí tempat kerja aku dí traktír sahabatku makan lho?"
gak ada satupun balasan.
"Sayang balas"
"sayang lagí apa? Kenapa gak pernah díbalas smsku? Aku sudah pulang níh yank."
aku rasa percuma.
"Sayang.. Aku kangen balas?"
sía-sía, namun bagíku ítu tídak percuma, dísítulah aku kembalí belajar sabar. Dan dístulah Aku tlah berusaha. Sampaí akhírnya íbu pulang dan mengajakku ke rumah sakít TUGU, dísítulah aku díperíksa. Dokter tídak mengatakan penyatík apa yang aku deríta kepadaku, dokter memanggíl íbuku dan berbícara dí dalam. Aku hanya bísa mendengarkannya.
"Anak íbu terserang penyakít kanker otak, tídak lama lagí usía anak íbu." terkerjut dan menangís.
Aku tídak menyangka sampaí penyakít yang aku deríta sepertí ítu. Sakítnya luka darí hatí semua aku rasakan. Día seolah tídak pernah sadar akan artí kesetíaanku kepadanya. Sekarang malah día mencíntaí lelakí laín. Ntah aku harus bersíkap bagaímana hatí dan perasaannya tlah keras. Sampaí akhrnya aku tetap terus bersabar dan berharap día kembalí dalam hídupku sepertí dulu. Mulaí darí melíhat fotonya, mengíngat kelucuannya, canda tawanya, manjanya, perhatíannya. Semua aku kenang, namun semakín aku mengenangnya maka semakín sakít pula hatíku. Semua tídak bísa terulang kembalí. Tíba-tíba nafasku semakín sesak. Kepalaku semakín sakít aku cuma berharap dan satu píntaku untuknya, aku íngín día kembalí mencíntaíku hídup bersama kembalí meskí cínta ítu akan bersemí ataukah akan matí bersama akhír nafasku yang terakhír akan bernafas tanpamu bersama luka, dan kenangan-kenangan índah bersamanya.
"Hídungmu kok keluar darahnya?"
aku sontak langsung mengusapnya, namun tak hentí-hentínya sampaí tísu-tísu keríng berserakan penuh darah. Orang tersayang tídak pernah pedulí juga tídak pernah sedíkítpun mengertí sakít yang aku deríta.
Sampaí akhírnya aku harus bekerja dengan pemberían semangat sahabatku meskípun kepala íní terasa begítu sakít. Sore harí Pulang kerja aku kembalí sms día.
"sayang aku sudah pulang, tadí aku seneng baget dí tempat kerja aku dí traktír sahabatku makan lho?"
gak ada satupun balasan.
"Sayang balas"
"sayang lagí apa? Kenapa gak pernah díbalas smsku? Aku sudah pulang níh yank."
aku rasa percuma.
"Sayang.. Aku kangen balas?"
sía-sía, namun bagíku ítu tídak percuma, dísítulah aku kembalí belajar sabar. Dan dístulah Aku tlah berusaha. Sampaí akhírnya íbu pulang dan mengajakku ke rumah sakít TUGU, dísítulah aku díperíksa. Dokter tídak mengatakan penyatík apa yang aku deríta kepadaku, dokter memanggíl íbuku dan berbícara dí dalam. Aku hanya bísa mendengarkannya.
"Anak íbu terserang penyakít kanker otak, tídak lama lagí usía anak íbu." terkerjut dan menangís.
Aku tídak menyangka sampaí penyakít yang aku deríta sepertí ítu. Sakítnya luka darí hatí semua aku rasakan. Día seolah tídak pernah sadar akan artí kesetíaanku kepadanya. Sekarang malah día mencíntaí lelakí laín. Ntah aku harus bersíkap bagaímana hatí dan perasaannya tlah keras. Sampaí akhrnya aku tetap terus bersabar dan berharap día kembalí dalam hídupku sepertí dulu. Mulaí darí melíhat fotonya, mengíngat kelucuannya, canda tawanya, manjanya, perhatíannya. Semua aku kenang, namun semakín aku mengenangnya maka semakín sakít pula hatíku. Semua tídak bísa terulang kembalí. Tíba-tíba nafasku semakín sesak. Kepalaku semakín sakít aku cuma berharap dan satu píntaku untuknya, aku íngín día kembalí mencíntaíku hídup bersama kembalí meskí cínta ítu akan bersemí ataukah akan matí bersama akhír nafasku yang terakhír akan bernafas tanpamu bersama luka, dan kenangan-kenangan índah bersamanya.
CINTA MENGAJARKAN KITA ARTI KESABARAN DAN KESETIAAN, DARI KESABARAN KITA
AKAN MENDAPATKAN KESETIAAN TAPI KESABARAN BELUM PASTI MENDAPATTKAN KESETIAAN ,
NAMUN DARI SITU MINIMAL KITA SUDAH BERUSAHA DEMI CINTA YANG DI DAMBAKAN HATI.
ENTAH SIA-SIA ATAUPUN BERHASIL.
Komentar
Posting Komentar