Neo Misteri Admin June 20, 2013 Headline, Legenda, Misteri
Legenda Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul
Neomisteri – Salah satu kegenda yang sangat populer di masyarakat kita
adalah legenda tentang Nyi Roro Kidul alias Ratu Laut Selatan.Banyak mitos yang
sangat kita kenal di masyarakat kita tentang kelegendaan Ny Roro Kidul.Mulai
dari mitos larangan memakai baju hijau ketika berenang di laut selatan hingga
kamar keramat di sebuah hotel.
Kapan pastinya legenda Ratu Laut Selatan tersebut mulai terdengar tidak
dapat kita pastikan.Bahkan telah banyak pula film yang mengangkat cerita
tentang Nyai Roror Kidul ini. Termasuk mengangkat nama artis horor terkenal
semacam Suzana di negeri kita ini karena memerankan tokoh ratu alam gaib itu.
Akan tetapi, legenda mengenai penguasa mistik pantai selatan mencapai
puncaknya ketaika ada semcam keyakinan di kalangan penguasa keraton Mataram
Islam, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, bahwa Kanjeng Ratu
Kidul merupakan “istri spiritual” bagi raja-raja di kedua keraton tersebut.
Bahkan pada waktu-waktu tertentu, keraton memberikan persembahan di
Pantai Parangkusuma, Bantul, dan di Pantai Paranggupita, Wonogiri, untuk sang
Ratu. Konon Panggung Sanggabuwana yang terdapat di komplek keraton Surakarta
dipercaya sebagai tempat bercengkerama sang Sunan dengan Kanjeng Ratu.
Ketika masa bercengkrama, pada saat bulan muda hingga purnama Sang Ratu
tampil layaknya wanita muda dan cantik.Akan tetapi, berangsur-angsur menua dan
buruk ketika bulan menuju bulan mati.
Bagi masyarakat Jawa, Kanjeng Ratu Kidul memiliki seorang pembantu
setia bernama Nyai atau Nyi Rara Kidul.Kadang-kadang ada juga orang yang
menyebutnya Nyi Lara Kidul. Nyi Rara Kidul ini menyukai warna hijau dan banyak yang percaya kalau dia suka mengambil
orang-orang yang mengenakan pakaian hijau untuk dijadikan pelayan atau
pasukannya.
Oleh karena itu ada larangan mengenakan pakaian hijau bagi pengunjung
pantai wisata di selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran,
Cilacap, pantai-pantai di selatan Yogyakarta, maupun Semenanjung Purwa di ujung
timur.
Sementara, bagi masyarakat Sunda, Ratu Kidul merupakan titisan dari
seorang putri Pajajaran yang bunuh diri di laut selatan.Putri tersebut bunuh
diri karena diusir oleh keluarganya.Dia diusir karena menderita penyakit yang
membuat malu anggota keluarga.
Akan tetapi, dalam kepercayaan Jawa, tokoh yang dipercayai masyarakat
Sunda tersebut dianggap bukanlah Ratu Laut Selatan yang sesungguhnya, melainkan
Nyi Rara Kidul, pembantu setia Kanjeng Ratu Kidul. Hal ini karena mereka
percaya jika Ratu Kidul berusia jauh lebih tua dan menguasai Laut Selatan jauh
lebih lama sebelum sejarah Kerajaan Pajajaran.
Menurut Legenda Sunda ,Meskipun dalam kepercayaan Jawa, Nyi Rara Kidul adalah bawahan setia
Kanjeng Ratu Kidul.Namun, masyarakat Sunda mengenal penguasa spiritual kawasan
Laut Selatan Jawa Barat yang berwujud perempuan cantik yang disebut Nyi Rara
Kidul sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Berikut kisahnya menurut masyarakat Sunda:
Keesokan harinya, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil
seorang tukang tenung. Dia meminta sang dukun meneluh Kadita, anak tirinya.
Maka, karena teluh sang dukun tubuh Kadita dipenuhi dengan kudis dan
gatal-gatal pada esok paginya. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu
harus berbuat apa.
Melihat penderitaan putrinya tersebut, maka Sang Raja mengundang banyak
tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya.Beliau sadar bahwa penyakit putrinya
itu tidak wajar.Seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya.
Namun, masalah menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksa
Raja untuk mengusir putrinya karena akan mendatangkan kesialan bagi seluruh
negeri. Sang Raja terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya
ke luar dari negeri itu karena beliau tidak menginginkan puterinya menjadi
gunjingan di seluruh negeri.
Puteri yang malang itu pun pergi berkelana sendirian, tanpa tahu kemana
harus pergi. Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya
tiba di Samudera Selatan.Dia memandang samudera itu.Airnya bersih dan jernih,
tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Tiba-tiba ia
mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Dia
melompat ke dalam air dan berenang.
Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya keajaiban
pun terjadi.Bisulnya lenyap.Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau
gatal-gatal.Bahkan dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya.Kini dia
memiliki kuasa dalam Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi
Rara Kidul yang hidup selamanya.
Dalam cerita tersebut kawasan Pantai Palabuhan Ratu secara khusus
dikaitkan dengan legenda ini.
Menurut Legenda Jawa
Orang Jawa mengenal sebuah
istilah “telu-teluning atunggal” yang artinya tiga sosok yang menjadi satu
kekuatan. Yaitu, Eyang Resi Projopati, Panembahan Senopati, dan Ratu Kidul.
Panembahan merupakan pendiri kerajaan Mataram Islam.
Dalam sebuah tiwikrama sesuai arahan Sunan Kalijaga karena sebuah
wangsit untuk membangun sebuah keraton di sebuah hutan ‘alas mentaok” (kini
Kotagede di Daerah Istimewa Yogyakarta) Panembahan Senopati dipertemukan oleh
Ratu Kidul.
Ketika sedang bertapa tersebut,
menurut cerita semua alam menjadi kacau, ombak besar, hujan badai,
gempa, dan gunung meletus. Dalam perjumpaannya dengan Ratu Kidul, wanita
penguasa laut selatan tersebut setuju membantu dan melindungi Kerajaan
Mataram.Bahkan dipercaya menjadi “istri spiritual” bagi Raja-raja trah Mataram
Islam.
Bagi orang Jawa, pemahaman tentang penguasa laut selatan yang berkembang
di masyarakat Sunda harus diluruskan. Bagi mereka antara “Rara kidul” dengan “Ratu kidul”
sangat berbeda. Dalam kepercayaan Kejawen, alam kehidupan itu terbagi menjadi
beberapa tahap, yaitu alam Kadewan, alam Nabi, alam Wali, alam Menungsa
(Manusia), dan yang akan datang adalah alam Adil.
Menurut mitologi Jawa, Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping
telu yang mengisi alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri) dan dewi alam
lainnya.Sementara Rara Kidul merupakan Putri dari Raja Sunda yang terusir
karena ulah dari ibu tirinya dan menjelma menjadi sosok penguasa setelah
menceburkan diri ke laut selatan.
Oleh karena itu keduanya beda fase tahapan menurut mitologi Jawa.
Pemitosan Ratu Laut Selatan
Berbagai macam ritual dan penghormatan dilakukan orang untuk
menghormati Kanjeng ratu Kidul. Di Karang Hawu, Pelabuhan Ratu misalnya,
terdapat tempat petilasan (persinggahan) Ratu Pantai Selatan yang sering
dikunjungi orang untuk melakukan ritual tertentu.
Komplek tersebut dikeramatkan
oleh penduduk setempat. Terdapat dua ruangan cukup besar dengan beberapa makam
yang menurut pandangan penduduk sebagai makam Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah
Mata Makuta dan Eyang Syeh Husni Ali. Selain itu juga terpampang gambar sang
penguasa Laut Selatan. Bahkan,
Penghormatan atau pemuliaan kepada Penguasa laut selatan juga terlihat
di Vihara Kalyana Mitta, kelenteng di bilangan Pekojan, Jakarta Barat.
Selain itu penghormatan terhadap ratu Laut Selatan juga terlihat pada
sedekah laut. Masyarakat nelayan pantai selatan Jawa, seperti pantai Pelabuhan
Ratu, Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap, Sakawayana dan sebagainya, setiap
tahun melakukan sedekah laut sebagai persembahan kepada sang Ratu karena
menjaga keselamatan para nelayan.
Selain itu, di saat-saat tertentu juga digelar ritual sebagai rasa
terima kasih mereka terhadap sang penguasa laut selatan oelh penduduk setempat.
Bukan hanya penghormatan dan ritual yang melahirkan pemitosan terhadap
Ratu Kidul.Bahkan ada semacam larangan memakai pakaian hijau ketika berenang di
Pantai Selatan Jawa. Peringatan selalu diberikan kepada orang yang berkunjung
ke pantai selatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau, sehingga
mereka tidak menjadi sasaran Nyai Rara Kidul yang akan mengambil mereka untuk
dijadikan tentara atau pelayannya.
Pada beberapa hotel di pantai selatan Jawa dan Bali pemitosan terhadap
sosol penguasa laut selatan ini bahkan nyata tergambar pada kamar yang
disediakan khusus untuk Kanjeng ratu Kidul.Di antaranya, kamar 327 dan 2401 di
Hotel Grand Bali Beach.
Ketika terjadi kebakaran besar pada Januari 1993, kamar 327 adalah
satu-satunya kamar yang tidak terbakar. Dengan keajaiban itu, maka setelah
renovasi kamar 327 dan 2401 selalu dirawat, diberi hiasan ruangan dengan warna
hijau, diberi sesaji setiap hari, tetapi tidak untuk disewakan. Kamar tersebut
khusus dipersembahkan untuk Ratu Kidul.
Begitu pula halnya di Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu.Kamar 308
disiapkan khusus bagi Ratu Kidul.Di dalam ruangan ini terpajang beberapa
lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya pelukis Basoeki Abdullah. Di Yogyakarta, Hotel
Queen of The South di dekat Parangtritis mereservasi Kamar 33 bagi Sang Kanjeng
Ratu. Inilah sedikit gambaran tentang pemitosan sosok Kanjeng Ratu Kidul di
masyarakat kita.

Komentar
Posting Komentar